Kamis, 14 November 2013

Senja Dibatas Kota (part 1)




Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu, tapi mungkin juga menjadi hari yang paling tidak ingin terjadi dalam hidupku. Hasil kerja kerasku dalam menimba ilmu akan segera terbayar, namun semua kenangan yang telah kulalui mungkin akan terlewat begitu saja, ketika kaki ini melangkah jauh meninggalkan gerbang sekolah.
Acara Pelepasan siswa-siswi yang  terselenggara hari ini akan menjadi saat-saat terakhir bagiku untuk bercengkrama dengan teman,dan para pahlawan tanpa tanda jasa itu. Ketika Acara pelepasan ditutup, maka selesai sudahlah cerita terbaik dalam masa remajaku ini. Sebuah masa yang tercipta dengan proses yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Setelan Kemeja putih terbalut jas hitam yang melekat ditubuh ini terasa serasi dengan celana hitam yang aku kenakan. Dengan senyum merekah ku sapa satu persatu teman-teman terbaikku yang tampil begitu berbeda hari ini. Para kaum Adam tampak begitu dewasa , sementara para kaum Hawa terlihat begitu anggun,cantik dan menawan mengenakan Kebaya yang berwarna-warni.

Seluruh peserta saling bercengkrama, berfoto-foto, dan bahkan ada juga yang masih merapikan penampilan mereka sebelum acara dimulai. Suasana yang hanya akan menjadi kenangan dikemudian hari ini benar-benar sangat terasa aneh di hati ini. Hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya semenjak tiga tahun lalu untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki disekolah ini.
Penyerahan “bukti wisuda” menjadi pembuka dalam acara pelepasan tersebut. Nyanyian-nyanyian dari paduan suara  serta petuah-petuah ajaib dari para Petinggi sekolah menjadi pengisi acara lain di hari yang cerah ini. Bahkan Pembagian duit secara Cuma-Cuma dan kejutan kecil yang mungkin tak masuk dalam skenerio juga menjadi bagian dalam acara pelepasan tersebut. Kami  begitu hikmatnya menikmati suguhan-suguhan yang disediakan oleh panitia pelaksana.
Dan Kemeriahan terasa pecah ketika tim teater sekolah mulai unjuk gigi. Dengan jalan cerita yang begitu ngawur serta menyindir beberapa tokoh sekolah, mereka mampu menghipnotis kami untuk tertawa dengan komedi-komedi ringan ala mereka. Kami sesaat melupakan makna sebenarnya hari ini. Kami lebih memilih larut dalam buaian penampilan unik mereka.
Ketika alur cerita menyentuhnya endingnya, MC telah menyelesaikan tugasnya, maka berakhir pula acara pelepasan hari ini. Akhir kisah dari lembar cerita di sekolah ini pun telah sempurna tertulis di bagian belakang buku ceritaku. Hari-hari sebagai manusia dengan sejuta kegilaan para remaja ku pastikan akan terukir indah dalam CPU terbaik sepanjang masa yang dimiliki manusia.
Kaki ini pun akhirnya mulai melangkah keluar gerbang sekolah, awal dari akhir  yang telah tercipta. Senyum terasa mekar dengan indahnya pada bibir ini. Namun sedih terasa menjadi pengganjal terberat dalam hati ini. Aku telah melukis kenangan dalam hidupku selama berada disekolah ini, dan kini ku siap menyapa bintang tuk meraih satu persatu mimpiku yang tergantung di horizon langit biru nan megah.
Kehidupan ini memang luar biasa, masih banyak hal yang menunggu untuk aku jejaki. Tapi aku melupakan hal yang paling penting untuk berlari didunia mimpiku. Aku masih tak memiliki arah angin yang pasti. Jati diriku pun masih belum aku temukan. Ia masih tersembunyi dalam jiwa bak sebuah harta karun yang tertimbun diujung samudera.
Perjalanku yang tanpa arah pun akan segera dimulai. Siap Mengalir seperti arus sungai  dan berhembus seperti angin. Hanya sedikit cahaya yang meneringi jalanan gelapku. Hanya berpegang teguh pada filosofi nan begitu lemah disertai mental yang belum juga terbentuk, aku memaksana diri tuk berani melewati batas ruang waktu menuju kekota itu. kota dimana petualang baruku akan segera dimulai.

BERSAMBUNG.............................................

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar